Terlibat Perkelahian, Siswa SMA di Amerika Serikat Menembak Mati Teman Sekolahnya

Terlibat Perkelahian, Siswa SMA di Amerika Serikat Menembak Mati Teman Sekolahnya

Beberapa waktu lalu, sebuah perkelahian terjadi di sekolah menengah atas yang terletak di Karolina utara, Amerika Serikat. Perkelahian ini terjadi diantara dua murid yang kemudian berakhir dengan tewasnya salah satu murid akibat luka tembak. Insiden

Spread the love

Beberapa waktu lalu, sebuah perkelahian terjadi di sekolah menengah atas yang terletak di Karolina utara, Amerika Serikat. Perkelahian ini terjadi diantara dua murid yang kemudian berakhir dengan tewasnya salah satu murid akibat luka tembak. Insiden yang terjadi pada 29 Oktober 2018 lalu tersebut berakhir dengan insiden penembakan salah satu murid kepada murid lainnya. Murid tersebut membawa pistol dan kemudian lepaskan tembakan tepat di lorong yang keadaannya ramai.

Seorang pejabat polisi di kota Matthews, yaitu Stason Tyrrell, memberikan pernyataan bahwa penembakan yang terjadi pada SMA Butler tersebut merupakan buah dari aksi bullying yang dilakukan di sekolah tersebut. Hal tersebut kemudian menjadi tidak terkendali yang Berujung kepada aksi penembakan siswa tersebut. Voli sini juga melakukan identifikasi korban dan menemukan bahwa korban yang tertembak adalah Bobby McKeithen, Yang usianya baru 16 tahun. Untuk pelaku, ditemukan bahwa namanya adalah Jatwan Craig Cuffie. Usia dari Sang pelaku diidentifikasi sama dengan usia dari korban, yaitu 16 tahun. Kini pelaku ditahan di penjara Mcklenburg County Dan didakwa atas pidana pembunuh tingkat pertama.

Polisi juga mengatakan bahwa saat itu polisi sekolah saja di kawasan kantin ketika dirinya dan juga petugas pengamanan sekolah dengan suara tembakan yang berasal dari lorong pada sekitar pukul 07.14 waktu setempat. Kemudian polisi dan juga petugas keamanan tersebut berlari menuju arah lorong dan kemudian memberikan prosedur prosedur pertolongan pertama sekitar 15 sampai 20 s lamanya.

Pelaku penembakan tersebut kemudian mengakui perbuatan yang sudah dilakukannya nya juga menyampaikan keinginan dari Sang pelaku untuk menyerahkan diri setelah lima sampai 7 min dari peristiwa penembakan tersebut terjadi. Tidak ada korban lain yang terluka dalam insiden penembakan tersebut, melainkan hanya satu korban saja.

Peristiwa ini awalnya dimulai dari beberapa hari yang lalu. Beberapa hari yang lalu terdapat sejumlah aksi bullying. Hal ini yang menjadi dasar mengapa insiden tersebut bisa terjadi. Beberapa orang juga mengungkapkan bahwa sempat terjadi pertengkaran pada Senin pagi, yaitu 29 Oktober 2018 lalu.

Clayton Wilcox, sang pengawas sekolah mengatakan bahwa sekolah tidak memiliki alat pendeteksi logam. Hal ini memungkinkan para siswa sekolah bisa membawa pistol ke dalam sekolah. Tidak Persediaan Alat pendeteksi logam tersebut yang memungkinkan para murid bisa dengan luasa membawa pistol ke lingkungan sekolah. Karena insiden ini, sekolah tersebut kemudian ditutup sampai 31 Oktober 2018 ini.

Hal ini juga memberikan pukulan yang besar dari pihak sekolah maupun pihak keluarga. Memang, aksi bullying di sekolah sering ditemui. Aksi Bullying tersebut bukan hanya Berujung pada luka mental dari korban, namun juga bisa Berujung kepada tindakan tindakan ekstrim seperti penembakan yang terjadi beberapa waktu lalu. Maka dari itu, penyuluhan yang lebih besar diperlukan dari sekolah tersebut agar tidak lagi terulang kejadian kejadian penembakan ataupun saksi bullying yang dilakukan di lingkungan sekolah.

Spread the love